ghibli-bukan-hanya-soal-pelafalan-ini-peran-orang-tua-dalam-mengajarkan-literasi-budama-pada-anak

pasecrets – Nama Studio Ghibli, rumah animasi Jepang legendaris di balik film seperti Spirited Away dan My Neighbor Totoro, belakangan ramai diperbincangkan karena kesalahan pengucapan yang meluas. Banyak orang—termasuk penggemar—masih keliru menyebut “Ghibli” sebagai “Jibli” atau “Ghibli” dengan pelafalan lembut. Lantas, bagaimana pengucapan yang benar, dan apa yang perlu diajarkan orang tua kepada anak-anak tentang tren ini?

Asal Usul dan Pelafalan yang Tepat

Kata “Ghibli” berasal dari bahasa Italia, ghibli, yang merujuk pada angin panas gurun Sahara. Pendiri studio, Hayao Miyazaki, memilih nama ini karena terinspirasi dari pesawat tempur Italia Caproni Ca.309 Ghibli311. Dalam bahasa Italia, “ghibli” diucapkan dengan huruf ‘G’ keras, seperti pada kata “gift” dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, pelafalan resminya adalah “GIB-lee” (G keras) atau “JEE-blee” (versi Italia yang lebih akurat).

Di Jepang, pelafalan lokal sering terdengar seperti “Jiburi” karena adaptasi katakana (ギブリ). Namun, Miyazaki sendiri menegaskan bahwa nama studio sengaja mengikuti akar Italia, bukan bahasa Jepang1115.

Mengapa Kesalahan Ini Terjadi?

Kebingungan muncul karena:

  1. Pengaruh Bahasa Jepang: Karakter katakana “ギ” (gi) dan “ブ” (bu) membuat penutur Jepang cenderung menyebutnya “Jiburi”.
  2. Kurangnya Edukasi: Banyak penggemar baru tidak mengetahui sejarah penamaan studio, sehingga mengira pelafalan Jepang adalah yang resmi.
  3. Viral di Media Sosial: Tren TikTok dan Instagram turut menyebarkan pelafalan keliru, seperti video yang mengklaim “Ghibli” diucapkan “Jibli”.

Peran Orang Tua dalam Menyikapi Tren

  1. Ajarkan Asal Usul Kata
    Orang tua bisa menjelaskan sejarah di balik nama “Ghibli” sebagai bagian dari literasi budaya. Misalnya, kaitkan dengan pesawat Italia atau angin Sahara untuk memicu minat anak pada geografi dan sejarah.
  2. Tekankan Pentingnya Pelafalan yang Tepat
    Kesalahan pengucapan bukan sekadar persoalan bahasa, tetapi juga bentuk penghargaan pada karya seni. Orang tua dapat menggunakan contoh lain, seperti merek atau nama tempat, untuk menunjukkan mengapa pelafalan penting.
  3. Manfaatkan Tren untuk Diskusi Kritis
    Ajak anak menganalisis konten media sosial bersama. Misalnya, bandingkan video TikTok yang menyebut “Jibli” dengan sumber resmi seperti wawancara Miyazaki. Hal ini melatih anak untuk tidak menerima informasi mentah-mentah.
  4. Eksplorasi Karya Studio Ghibli
    Manfaatkan momentum ini untuk mengenalkan anak pada film-film Ghibli yang sarat nilai lingkungan, persahabatan, dan imajinasi. Diskusikan bagaimana nama studio mencerminkan semangat kreatif Miyazaki.

Tren pelafalan “Ghibli” adalah contoh bagaimana bahasa dan budaya saling terkait. Dengan membimbing anak memahami akar kata dan maknanya, orang tua tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga mengajarkan sikap kritis terhadap informasi yang beredar. Seperti kata Miyazaki, “Yang terpenting bukan sekadar menonton, tetapi meresapi setiap cerita”—dan itu dimulai dari menghargai nama sang pembuatnya.